Cara Menghitung Break Even Point Mudah Dengan Rumus BEP

  • 3 min read
  • Okt 13, 2020
cara menghitung break even point

Kamu seorang pebisnis yang ingin sekali menghitung berapa tahun perusahaan kamu bisa mendapatkan keuntungan sesuai target kamu? Atau kamu termasuk salah satu pengusaha yang ingin mengetahui kapan usaha yang kamu jalankan akan mengalami balik modal? Maka kamu wajib tahu cara menghitung break even point (BEP).

Dalam ilmu Akuntansi, kita semua akan mengenal dengan yang namanya istilah Break Even Point (BEP) yang merupakan titik dimana pendapatan yang diperoleh dari usaha sama dengan modal yang sudah dikeluarkan. Dalam posisi BEP alias Break Even Point ini, kamu tidak mengalami kerugian dan tapi juga tidak mendapatkan keuntungan. Kebanyakan orang menyebut kalau titik BEP ini sebagai kondisi dimana usaha yang dijalankannya balik modal.

Perhitung BEP ini termasuk salah satu perhitungan yang sangat penting sekali dilakukan jika kamu mempunyai usaha atau bisnis. Oiya, cara menghitung break even point ini biasanya dilakukan sebelum usaha atau bisnis dijalankan. Jadi, BEP ini bisa dijadikan bahan proyeksi atau analisa usaha yang akan kamu jalankan.

Fungsi Break Even Point (BEP)

cara menghitung break even point

Berikut di bawah ini Mahatekno akan membahas beberapa fungsi dan kegunaan dari penghitungan BEP, diantaranya:

Kamu dapat ❝aware❞ dengan dana yang kamu gunakan

Dengan menghitung BEP, kamu bisa mengukur fixed costvariable cost, dan juga biaya-biaya yang lainnya sesuai dengan yang kamu inginkan.

Kamu yang notabenya sebagai pebisnis atau pengusaha yang sedang menjakankan usaha, pastinya kamu tidak ingin berlama-lama untuk mencapai BEP. Dengan cara menghitung Break Even Point kamu bisa menentukan apakdah dana yang akan digunakan terlalu besar untuk diterapkan atau tidak.

Bisa dipakai sebagai bahan proyeksi

Dengan cara menghitung break even point ini kamu bisa kalkulasikan berapa volume unit yang diperlukan. Alhasil, kamu bisa menentukan jumlah unit untuk target harian, mingguan, bulanan, dan juga tahunan.

Bukan cuma unit saja, kamu juga bisa memprediksikan berapa nominal penjualan yang harus dicapai agar bisa segera balik modal, dan kemudian kamu bisa proyeksikan kapan bisa meraup keuntungan dari omset yang diperoleh.

Cara Menghitung Break Even Point (BEP)

Perlu kamu ketahui, bahwa setidaknya ada 2 metode untuk menghitung BEP ini, diantaranya yaitu:

1. Menghitung Break Even Point Berdasarkan Unit. Yakni titik impas (BEP) yang dinyatakan berdasarkan jumlah penjualan produk pada nilai-nilai tertentu. Dengan cara ini, kamu bisa memperkirakan bisnis atau usaha yang kamu jalankan akan balik modal pada jumlah penjualan produk yang ke berapa?

2. Menghitung Break Even Point Berdasarkan Rupiah (Nominal. Yakni perhitungan titik pulang pokok yang dinyatakan berdasarkan harga penjualan (P) atau jumlah penjualan tertentu. Dengan cara ini kamu bisa perkirakan usaha kamu akan balik modal pada jumlah nominal berapa?

Sebelum melakukan perhitungan Break Even Point (BEP), kamu harus menentukan 4 elemen penting yang terdapat pada rumus BEP itu sendiri, diantaranya adalah:

  1. Fixed cost (biaya tetap), yang mana adalah biaya yang kamu keluarkan untuk menyewa tempat usaha (tanah/toko), menggaji pegawai, mesin, dan yang lainnya. Biaya ini tetap harus kamu keluarkan walaupun tidak terjadi closing penjualan satu produk pun.
  2. Variable cost (biaya variabel), yaitu biaya yang kamu keluarkan sehubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha yang kamu jalankan, dan biaya variable ini bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kegiatan apa saja yang dilakukan. Misalnya biaya distribusi produk (jika kamu memproduksi produk), nota penjualan, komisi, biaya untuk komunikasi dengan konsumen, dan biaya lainnya.
  3. Harga penjualan, yakni harga jual yang kamu tentukan untuk konsumen atau pembeli.
  4. Kontribusi margin per unit, yakni jumlah keuntungan yang kamu peroleh dari setiap produk yang laku terjual.

Rumus Break Even Point (BEP)

Nah, setelah kamu mempersiapkan elemen-elemen di atas, maka rumus perhitungan break even bisa ditulis seperti ini:

  1. BEP Unit = Biaya tetap / (Harga jual per unitBiaya variabel per unit).
  2. BEP Rupiah (Nominal) = Biaya tetap / (Kontribusi margin per unit / harga jual per unit).
  3. Kontribusi Margin Per Unit = Harga jual per unitBiaya variabel per unit.

Catatan :

  • = (sama dengan)
  • /  (dibagi)
  • –  (dikurangi).

Contoh perhitungan rumus BEP Unit

Muhamad Ilyas memiliki sebuah usaha toko sepatu dengan fixed cost (biaya tetap) sebesar Rp4.000.000 per bulan dan variable cost (biaya variabel) sebesar Rp50.000 per unit sepatu, sedangkan harga jualnya Rp120.000 per unit.

Maka perhitungan BEP per unitnya, adalah:

BEP Unit = Biaya tetap / (Harga jual per unit – Biaya variabel per unit)
= 4.000.000 / (120.000 – 50.000)
= 4.000.000 / 70.000
= 57.14 dibulatkan ke bawah menjadi 57 Unit.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Muhamad Ilyas akan mengalami balik modal jika sudah berhasil menjual 57 unit sepatu per bulannya. Sehingga pada saat penjualan sepatu ke 58, maka Ilyas sudah bisa mendapatkan keuntungan karena biaya tetap (fixed cost) sudah tertutupi dengan penjualan 57 unit sepatu.

Contoh perhitungan rumus BEP Rupiah (Nominal)

Ujang agus memiliki sebuah toko usaha jual kandang burung dengan fixed cost sebesar Rp3.000.000, dan variable cost sebesar Rp100.000 per unit kandang. Sedangkan harga jualnya Rp145.000 per unit.

Maka perhitungan BEP Rupiahnya, adalah:

BEP Rupiah = Biaya tetap / (Kontribusi margin per unit / Harga jual per unit)
= 3.000.000 / (harga jual – variabel cost) / harga jual per unit
= Rp3.000.000 / (145.000 – 100.000) / 145.000
= 3.000.000 / 0.31
= Rp9.677.419,-

Kesimpulannya, Ujang Agus bisa mengalami balik modal (BEP) jika angkan penjualan kandang burungnya sudahh mencapai angka/nominal Rp9.677.419. Jadi, setelah Agus melewati angka nominal penjualan itu, misalnya Rp15.000.000 maka Agus sudah dinyatakan balik modal (impas) dan juga sudah meraup keuntungan sebesar Rp5.322.581.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *